Monday, June 22, 2009



Centre of Excelence for Stability Police Units (CoESPU), 13th Class 2008 
"Pre-Deployment Trainning Courses for Darfur" 
Indonesian Participants
Read More...

Friday, June 19, 2009

President Yudhoyono Receives New Ambassadors

TEMPO InteractiveJakarta: President Susilo Bambang Yudhoyono accepted diplomatic representatives from 15 embassies for Indonesia at the state palace on Friday (19/6) which presented their letters of credentials to President Yudhoyono as non-resident ambassadors.


The non-resident ambassadors (designated non-resident) are the Ambassador of Ireland, Richard O'Brien, who is stationed in Singapore; Ambassador of Ethiopia Abdirashid Dulane based in Tokyo; Ambassador of Swaziland Mpumelelo Joseph N Hlophe, Kuala Lumpur; Ambassador of the Oman Sultanate Aflah bin Suleiman Al-Taei, Kuala Lumpur; Ambassador of Luxembourg Marc Ungeheuer, Bangkok.

There was also the Ambassador of Eritrea, Alem Tsehaye Woldemariam, based in New Delhi; Ambassador of The Republic of Colombia, Juan Alfredo Pinto, New Delhi; Ambassador of the Republic Uganda, New Delhi, Nimisha J Madhvani; Ambassador of Nepal, Kuala Lumpur, Rishi Raj Adhikari; and the Ambassador of The Republic of Lithuania, Sigute Jakstonyte.

Furthermore there was the Ambassador of the Republic of Angola based in Singapore, Flavio Saraiva de Carvalho Fonseca; the Ambassador of the Republic of Djibouti, Tokyo, Ahmed Araita Ali; Ambassador of the Republic of the Seychelles, New Delhi, Dick Patrick Esparon; Ambassador of Mongolia, Bangkok, Luvsandoo Dashpurev; Ambassador of the Republic of Palau, Ramon Rechebei, Manila.

Read More...

Nationalism Attitude...

Sejauh mana jiwa nasionalisme kita akan dipertahankan, seiring dengan kewibawaan bangsa yang semakin menurun, dimana kita melihat dan mendengar bagaimana anak bangsa dianiaya dan dianggap remeh, bagaimana batas teritorial yang merupakan batas negara dengan seenaknya dilanggar dan bagaimana aksi sweeping yang dilakukan oleh ormas negara tetangga bahkan mengganggu warga negara yang melakukan kunjungan ke negeri jiran baik selaku duta negara sahabat maupun sebagai wisatawan yang notabene adalah tamu...

Mengenang masa beberapa tahun yang lampau dimana kewibawaan negeri ini begitu terkenal seantero dunia, dimana ucapan kepala negara kita menjadi ancaman buat beberapa negara tetangga yang akhirnya berpikir berkali-kali untuk selalu menjaga keharmonisan yang bukan dari pihak kita yang merasa harus toleransi...

Fakta diatas bukan merupakan ungkapan ragu saya selaku pribadi, terus terang saya masih sangat bangga sebagai warga negara Indonesia dan akan terus bangga mengakuinya, tulisan ini ingin mengajak kita sebagai warga negara Indonesia untuk menumbuhkan kebanggaan dan keyakinan kepada pemerintah kita, terutama mendukung siapapun yang terpilih dalam Pilpres 2009 agar seluruh program dapat berjalan untuk mengembalikan kebanggaan yang mungkin agak berkurang akhir-akhir ini.

Urun rembug ini juga merupakan wahana untuk menggugah dan menginstropeksi diri, bagaimana (menurut pemikiran saya) bahwa kita sendiri berperan besar dalam mengurangi kewibawaan bangsa, pernyataan-pernyataan yang mendiskreditkan pemerintah, kelakuan saling menyalahkan dan mengungkit kesalahan yang sebenarnya tidak perlu, sifat kekanakan dalam menyikapi issue baik nasional maupun global, sedikit banyak berperan dalam membentuk opini masyarakat dunia karena dengan sarana komunikasi yang makin terbuka dan global, setiap informasi akan cepat di akses sehingga semua kekurangan dan 'kebobrokan' yang harusnya merupakan konsumsi lokal bisa dengan cepat mendunia. 

Mungkin kritik dan masukan yang diberikan untuk pemerintah merupakan pressure agar pemerintah segera merespon namun disisi lain menunjukan kelemahan bangsa kita, kebebasan dalam mendapatkan informasi sering menjadi salah kaprah pada dimensi yang lain, perlu diingat bahkan dibeberapa negara yang lebih maju dan modern dari negeri kita, sopan santun dan etika dalam memberikan serta menerima informasi masih diawasi oleh negara.

Selain sama-sama menjaga sikap dan etika dalam memberikan pernyataan dan informasi, pemerintah harus segera mengambil langkah-langkah untuk menumbuhkan kebanggaan, antara lain dengan memperkuat alutsista guna mengamankan wilayah Indonesia yang demikian luas, menjadi bahan tertawaan negara tetangga fakta bahwa peralatan militer kita adalah sisa-sisa Perang Dunia II, kalaupun ada yang baru, itu merupakan produk assembling dari perusahaan lokal yang kualitasnya meragukan, maka tak heran dalam pemberitaan media akhir-akhir ini banyak terjadi kecelakaan peralatan tempur kita, yang jelas-jelas karena faktor usia pakai yang sudah uzur...itupun kita masih mendengar pernyataan yang mengatakan bahwa peralatan tersebut masih layak pakai dan penyebab kecelakaan karena faktor cuaca atau human error, sungguh suatu pembodohan publik.

Hubungan baik dengan negara-negara pemasok peralatan tempur perlu dijaga, bukan bermaksud menjual rasa kebangsaan namun perlu dilakukan sikap politik yang baik dalam menjaga hubungan layaknya kehidupan bertetangga, jauhkan sifat kekanakan yang pada akhirnya merugikan bangsa sendiri, adakalanya perlu juga kita kompromi dengan negara barat, toh beberapa bangsa yang mayoritas muslim pun banyak yang menjalankan strategi yang sama.
Read More...

Ambon Child Rapist Jailed

Thursday, 18 June, 2009 | 15:34 WIB

TEMPO InteractiveJakarta: The Ambon municipal court sentenced a 26 year-old ferry crew member in Maluku Province to eight years in prison for raping an eleven-year-old girl and fined the ferry crew Rp 70 million.

Judge Agustinus Silalahi punished Hezron Salhuteru for the crime that occurred last October. It was a lighter sentence than the 14 years sought by prosecutors.

The victim who was a vender wandering from boat to boat selling various merchandise was raped on a boat docking at Ambon Port. Hezron lured the fifth grader with a job to clean the boat and then gave her Rp 10,000 (less then US$ 1) after raping her.

Read More...

Plane Explodes at Jakarta's Soekarno-Hatta

Thursday, 18 June, 2009 | 16:07 WIB TEMPO InteractiveJakarta: An airliner caught fire at the Garuda Maintenance Facility at Soekarno-Hatta Airport on Thursday (18/6) afternoon. The explosion was heard at Terminal I, according to a spokeswoman for Garuda Maintenance Facility, Siska Tobing. The airline maintenance unit said fire did not spread to other aircraft around the plane that exploded. Sudaryanto Corporate Secretary of the airport operator Angkasa Pura II, said the burned plane was damaged, while Garuda said the explosion ocurred on an old plane being dismantled. Reports said the plane was a Boeing operated by a Thai carrier, Phuket Airlines. Garuda Indonesia's spokesman Pudjobroto said there were no casualties.

Read More...

Monday, June 15, 2009

Thousand Rivers City


Are you have been in Banjarmasin??!
I have lived here for about 5 years, in generally, is not have the potential tourism can be offered in Banjarmasin and surrounds, so for sometimes I feel bored with the situation in here. 
But when we will lookin arround, many potential tourism object can be managed well in Banjarmasin, for example that there is a floating market on Kuin village and Martapura there is look like the same place in Bangkok, which is the Kembangan Island monkeys paradise in the middle of Barito Rivers at Banjarmasin, waterfalls are in Loksado and Riam Kanan river, many of channel form small rivers that pass across the Banjarmasin, so the city is called "thousand rivers city" and some other things that actually unique, but not explored. 

Actually if the government would like to do a little bit work and manage all things well, Banjarmasin can become a tourism destination like Venice in Europe, especially when the government and the community want to maintain cleanliness and order which is a requirement for a place become potential tourism destination, may be starting with the maintain parking area and cadger in every corner of Banjarmasin, and maintain the beggars, gradually urge the people who live in the river edge to create a 'two terrace', one is overlook to the river and the other is to the road, why is that? because by making the terrace on river front some people will be assume to keep clean for it, not only for a toilet and kitchen, when this happens Banjarmasin will become a beautiful city with a thousand rivers, we can imagine in the afternoon canoeing along the river feel like in Venice and Amsterdam...
Read More...

Police Prevention To Disintegrated and Terrorism




Read More...

Sunday, June 14, 2009

our family...



they're more than my family...but our family, i love them...
photo ini dibuat waktu lebaran tahun kemaren di martapura, kadang-kadang kalo tanduk lagi 'mau tumbuh' gw suka ngelihat photo ini di handsheld BB, lumayan tanduknya suka gak jadi tumbuh, atau kalaupun tumbuh gak runcing-runcing banget wakakakakakakaaaa...
Read More...

Proud To Be Indonesian

Perkembangan hubungan Indonesia dan Malaysia akhir-akhir ini agak 'memanas', selain kasus yang menimpa Manohara, pelanggaran batas teritorial oleh TLDRM di wilayah Ambalat dan yang terakhir kasus yang menimpa TKW asal Indonesia Sitti Hajjar, pemerintah kedua negara bukan tidak mengambil langkah-langkah untuk meredam perkembangan issue-issue tersebut, namun dalam berbagai kesempatan baik di dunia nyata maupun dunia maya terjadi saling menghina, mengejek dan perbuatan lain yang tidak pantas dilakukan oleh dua negara yang mengaku sebagai jiran.
Sebaiknya setiap permasalahan apabila ditanggapi secara dingin akan lebih baik dan tidak berkembang secara negatif, dalam kasus Manohara alangkah baiknya kita memposisikan masalah ini dalam ranah hukum dan tidak terpancing dengan hal yang belum dapat dibuktikan secara yuridis, demikian juga dengan kasus penganiayaan TKW asal Indonesia oleh majikannya yang seharusnya segera diresponse melalui jalur hukum dan untuk pelanggaran teritorial di Ambalat saya kira masing-masing pihak sudah mengambil langkah terbaik untuk duduk semeja menyelesaikan permasalahan tersebut dengan semangat ASEAN, toh kita sudah mendengar pernyataan Panglima Tentera Diraja Malaysia yang saya kira merupakan suatu itikad baik untuk penyelesaian damai.

Upaya-upaya tersebut akan sia-sia bila kita mau untuk terus diprovokasi oleh pihak yang berkepentingan sehingga akan memperkeruh suasana, sebagai contoh masih ditemukan unjuk rasa yang berisi ungkapan untuk mengobarkan perang, dengan slogan "Ganyang Malaysia" atau ada yang memelesetkan Malaysia dengan Malingsia serta beberapa ungkapan menghina, mengejek lainnya yang saat ini sangat mudah ditemui dalam kegiatan unjuk rasa dan berbagai situs, blog, dan media lainnya.

Dipihak Malaysia sendiri, banyak melakukan hal yang sama, coba tengok komunitas blogger Malaysia yang jelas-jelas mengatakan bahwa Manohara berbohong atau lihat blog indoncelaka.blogspot.com yang isinya menghujat Indonesia dengan mengatakan indonesial, walaupun dalam beberapa posting-nya tetap meminta masyarakat Indonesia untuk bersikap arif dan bijaksana dalam menyikapi semua issue tersebut.

Kita tentu tidak mau situasi ini akan berlarut-larut, akan lebih baik kalau masing-masing pihak mau bersikap bijaksana karena sebagai bangsa serumpun yang bertetangga tentunya kita memiliki hubungan emosi yang sangat kuat, apabila kita runut ke belakang sejarah telah membuktikan bahwa kita saling mendukung dalam mewujudkan kemerdekaan, banyak transfer ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang telah diberikan Indonesia ke Malaysia hal ini dibuktikan dari banyaknya cendekiawan Malaysia yang menuntut ilmu di Indonesia pada masa-masa awal kemerdekaan kedua negara walaupun pada saat itu juga sempat terjadi konfrontasi, saat ini memang Indonesia agak tertinggal dari Malaysia karena Indonesia lambat pulih semenjak krisis ekonomi pada akhir 1990-an namun sebaiknya itu bukan menjadi celah untuk Malaysia menganggap 'remeh' Indonesia.

Peran media sangat diperlukan dalam memulihkan situasi ini, terkadang pemberitaan yang terlalu berlebihan dapat ditanggapi keliru oleh masyarakat, kemerdekaan untuk memberikan dan menerima informasi harus dilakukan secara proporsional, kalau dicermati dari blog indoncelaka tersebut semua bahan olok-olokan yang diposting blogger Malaysia berasal dari hasil browsing situs-situs di Indonesia, kadang kita sebagai warga Indonesia terlalu vulgar dalam mengkritik pemerintah, kadang kita sendiri yang menciptakan celah untuk orang lain menganggap remeh bangsa kita, kadang kita sendiri yang saling menghujat sehingga kekurangan dan kebobrokan kita diketahui secara luas dan yang terakhir kita masih belum bangga sebagai Indonesian, kita masih suka melihat kepada orang lain dan meninggalkan kekhasan kita dan setelah terprovokasi dengan kasus-kasus seperti diatas, tiba-tiba muncul nasionalisme yang sempit dan pada akhirnya menunjukan kekurangan kita sendiri, sebagai contoh; untuk apa sih unjuk rasa sampai harus bakar bendera segala??! mau nggak kalau bendera kita dibakar?, untuk apa unjuk rasa sampai harus sweeping segala? ada berapa banyak WNI di negara lain, mau nggak kalo mereka disweeping juga? masih banyak contoh lain yang menunjukan sikap kekanak-kanakan dalam menerima sesuatu sehingga mudah terprovokasi.

Harusnya dalam menyikapi semua hal yang dicontohkan diatas, kita perlihatkan kewibawaan kita sebagai bangsa yang bermartabat, kita perlihatkan bahwa kita dulu adalah 'guru' bangsa-bangsa di Asia Tenggara, pemerintah yang terpilih dalam proses Pemilu 2009 harus segera mengambil langkah-langkah untuk mewujudkan kebanggaan itu agar apapun yang ditulis di blog tersebut dapat segera terbantahkan, kita negara yang kaya dan memiliki sumber daya yang besar sepanjang dikelola dan diarahkan dengan baik penggunaannya. Susun program-program untuk memberantas korupsi dan laksanakan jangan hanya tebang pilih agar semua utang luar negeri dapat diselesaikan untuk pemulihan ekonomi, perkuat alutsista angkatan bersenjata, wujudkan kebanggaan dan nasionalisme yang tidak salah kaprah dan menjadi bahan olok-olok bangsa lain.

Sebagai Indonesian saya bangga memiliki tanah air yang demikian kaya, terpulang kepada pemerintah untuk mempergunakan sebaik-baiknya bagi kemakmuran rakyat, mulai sekarang jangan mau disebut indon, atau menyebut diri dengan indo yang berkonotasi negatif karena merupakan sebutan olokan terhadap TKI kita dan mengingatkan sebutan pada jaman kolonialisme...sebut diri kita sebagai Indonesian!!!
Read More...

Kampanye Terbuka Pilpres 2009

Berikut berbagai analisa dan strategi dalam kampanye Presiden 2009 yang kami sadur dari berbagai sumber...

Analisa Terkait Strategi dan Hambatan Kampanye Pasangan SBY-Boediono
JAKARTA Kampanye tentang Pilpres satu putaran yang dilakukan kubu pasangan SBY-Boediono terus mendapat cibiran. Sejumlah pengamat menilai hal itu dikarenakan kurang cerdasnya kubu SBY-Boediono dalam mengelola isu untuk menghadapi dua penantangnya.

Pemerhati komunikasi politik dari Universitas Indonesia, Effendi Ghazali, menilai kampanye pilpres satu putaran yang disuarakan kubu pasangan SBY-Boediono justru akan kontra produktif. Ini bentuk kampanye yang kurang cerdas karena memberikan kesan kepada publik pasangan ini sebagai pasangan yang arogan, ujar Effendi saat hadir pada paparan hasil survey Sugeng Sarjadi Syndicate di Jakarta, Sabtu (13/6).

Menurutnya, melihat pentingnya pencitraan seharusnya kubu pasangan SBY-Boediono melakukan kampanye yang menyerang. Alasannya, waktu yang tersedia bagi pasangan capres untuk memaparkan program maupun visi dan misinya sudah semakin terbatas. "Para capres akan terjebak dalam iklan-iklan politik yang kosong karena waktunya terbatas. Karena itu para pasangan harus saling menyerang, cetus Effendi.

Meski demikian Effendi juga menyarankan agar pasangan capres tetap bersikap elegan. Dan serangan itu harus diperkuat data, tandasnya.

Sedangkan pengamat ekonomi dari ECONIT, Hendri Saparini menilai kampanye piplres satu putaran dilontarkan karena kubu pasangan SBY-Boediono sudah kerepotan menghadapi tudingan neo-liberal. Menurut Saparini, isu neo liberal tidak bisa dipandang remeh kubu SBY-Boediono. 

Perempuan yang selalu tampil berjilbab ini mengatakan, isu neo-liberal bisa menjadi senjata ampuh bagi pesaing SBY-Boediono. Mungkin awalnya Pilpres 2009 diprediksi tak berbeda jauh dengan Pilpres 2004. Tetapi setelah Pak SBY memilih Pak Boediono, muncullah isu neoliberal dan ini sudah di luar dugaan," ulas Saparini.

Menurutnya, Pilpres kali ini adalah pertarungan mengelola isu ekonomi. "Jadi pasangan capres dan cawapres yang bisa mengelola isu ekonomi ini dengan benar, bakal menang, tukasnya.

Utang Indonesia kian hari kian membumbung tinggi. Besarnya beban utang tersebut disinyalit dapat menjadi penghambat SBY-Boediono melaju pada Pilpres Juli mendatang. 

"Mengenai dana BLT yang katanya dari utang ini isu beban berat oleh SBY-Boediono. Jadi tidak ada yang dilakukan selain meng-counter isu ini," sebut Direktur Eksekutif Lima Ray Rangkuti dalam diskusi 'Utang vs Kedaulatan: Tantangan Ekonomi Politik Presiden Sekarang dan Mendatang' di LP3ES, Jakarta, Minggu (14/6). 

Kendati begitu, menurut Ray, isu tersebut tidak akan mempengaruhi rakyat banyak. Karena isu tersebut hanya dikonsumsi di tingkatan elit saja. "Jadi implikasinya tidak terlalu besar untuk tingkat terhadap pilpres," ucapnya. 

Ia menjelaskan, dari 3 pasangan capres-cawapres yang ada, hanya SBY-Boediono yang menolak membicarakan utang Indonesia. Sedangkan sisanya Mega-Prabowo dan JK-wiranto begitu getol membicarakan soal utang tersebut. 

"Dan kalau DPR cerdas, itu Komisi XI harus memanggil Sri Mulyani Indrawawti dan memastikan apakah benar dana BLBI itu diambil dari utang. Harus diketahui prosedur pembayarannya dan lain-lain. Apakah ini sudah didiskusikan oleh kreditor. Jangan-jangan itu tidak tercantum di dalamnya," pungkasnya. 

Kampanye Pasangan SBY-Boediono
Calon presiden nomor 2 Susilo Bambang Yudhoyono mengingatkan semua pihak untuk tidak mudah berjanji. Sebab, semakin banyak janji dilontarkan, maka akan semakin sulit untuk menepatinya. Ia bahkan seolah menyindir jargon kampanye calon lain. 

"Saya memilih tidak mudah berjanji. Tidak mudah mengatasi masalah, tidak mudah memimpin negara. Banyak saudara kita yang tidak sabar ingin banyak yang diubah dalam semalam. Makin banyak janji, sulit dipenuhi," kata SBY, dalam kampanye terbatas di GOR Flobamora, Kupang, Minggu (14/6) siang. 

Dengan kondisi yang ada sekarang, kata dia, hendaknya rakyat memilih pemimpin yang sudah memiliki komitmen yang jelas terhadap penegakan hukum dan pemerintahan yang bersih. 

"Saudara bebas memilih. Mau pilih yang jelas komitmennya terhadap pemerintahan yang bersih atau yang belum jelas komitmennya? Kalau janji, semua orang bisa. Saya lebih baik, saya lebih cepat. Jangan terlalu mudah bikin janji," tegasnya.

Kampanye Pasangan Mega-Pro
Jembatan Suramadu yang menghubungkan Jawa dengan Madura telah diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beberapa waktu lalu. Hal ini membuat calon presiden nomor 1 Megawati Soekarnoputri jengkel. Sebab, jembatan itu, menurutnya berawal dari hasil kerja kerasnya ketika menjadi presiden. 

"Sekarang jangan dilihat kalau jembatan itu sudah jadi dan berdiri megah. Tetapi siapa yang mengawali, siapa yang menancapkan tiang pancangnya. Hal-hal sulit ini yang harus diingat. Jangan kalau sudah jadi dan berdiri kokoh saja," ujarnya, di Stadion Kahuripan Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Minggu (14/6). 

Megawati juga mengingatkan pada para pendukungnya mengawasi daftar pemilih tetap (DPT). Sehingga, tidak terjadi lagi indikasi kecurangan seperti pada saat Pilgub Jatim beberapa waktu lalu. "Saya punya buktinya. Jangan khawatir. Buktinya ada," tegas Mega. 

Usai berkampanye dan berdoa bersama dengan para ulama serta santri di Malang, Mega langsung menuju Sidoarjo dan bertemu dengan pasangannya Prabowo Soebianto.

Kampanye JK-Win
Calon Presiden Jusuf Kalla yang berkampanye di kawasan Cilincing Jakarta, menjanjikan perhatian yang lebih besar terhadap kesejahteraan masyarakat, terutama dibidang pendidikan dan kesejahteraan keluarga melalui PKK yang menurut Kalla akan ditangani langsung oleh Ny Muffidah Kalla.

Pada kesempatan itu JK melakukan dialog dengan ibu-ibu yang mengeluhkan masih tingginya biaya pendidikan yang tidak sesuai dengan pemasukan yang bersangkutan sebagai buruh dan memohon agar pasangan JK-Win lebih concern kepada peningkatan pendidikan.

Analisa Terkait Issue Utang Luar Negeri
Utang luar negeri benar-benar menjadi isu panas di Pilpres. Setelah dibidik dengan jumlah utang luar negeri yang meroket selama era kepresidenan SBY, kubu pasangan capres SBY-Boediono menyerang balik kubu Megawati dengan isu utang pula. 

Analis politik dari kantor kepresidenan, Zaenal Budiyono mengatakan, selama Megawati menjadi presiden ternyata pinjaman luar negeri Indonesia juga tak terlepas dari dikte IMF. Bahkan Megawati yang nyata-nyata mengklaim sebagai korban Orde Baru, justru menunjuk sisa-sisa tim ekonomi Orde Baru yang dikenal sebagai para mafia Berkeley menjadi pembantunya (di kabinet), ujar Zaenal, kepada JPNN, Minggu (14/6).

Bahkan, kata Zaenal yang juga anggota Tim Kampanye Nasional SBY-Boediono ini, Megawati telah menciptakan jebakan utang luar negeri dan menganut neo-liberalisme. Sebab, embel-embel yang disyaratkan IMF sebelum mengucurkan utang selalu dipatuhi pemerintahan Megawati. 

Soal kecenderungan Megawati didikte IMF, ulas Zaenal, bisa dilihat dari penandatanganan letter of intent (LoI) yang ditandatangani pada Agustus 2001. Turunan LoI itu adalah kenaikan harga BBM sampai 30 persen, kenaikan Tarif Dasar Listrik hingga 17 persen, serta kompensasi kenaikan BBM untuk keluarga miskin (perkotaan) dengan skema subsidi beras yang justru menghancurkan kaum tani dan penahanan kenaikan upah, tudingnya.

Zaenal juga menunjuk divestasi Bank Central Asia (BCA) sebagai bentuk tunduknya Megawati terhadap dikte IMF. September 2001 IMF menyetujui pencairan pinjaman 395 juta dollar AS ke Indonesia. Ini adalah pengucuran utang tahap II yang merupakan bagian dari paket utang sebesar 4,73 milyar dolar AS. Komitmen pemerintah Indonesia era Megawati untuk menjalankan semua resep-resep reformasi neo-liberal yang disarankan oleh IMF telah mendorong IMF menyetujui pencairan utang, sebut Zaenal.

Lebih lanjut Zaenal menambahkan, divestasi 51 persen saham BCA itu dimaksudkan agar bank yang sebelumnya dikuasai BPPN dari keluarga Salim itu bisa secara total dikuasi investor asing. 

Tak hanya itu, Zaenal menilai selama kepresidenan Megawati, postur APBN tak sehat karena ditopang dengan penjualan aset di BPPN dan privatisasi. Dan tentunya dengan pinjaman luar negeri pula, lanjutnya.

Karenanya Zaenal melihat hal itu sebagai salah satu kesalahan fatal pemerintahan Megawati. Kesalahan seperti inilah yang kemudian menjebak Indonesia ke dalam jerat utang luar negeri yang lebih dalam, tukasnya.

Read More...

Thursday, June 11, 2009

Pelayanan Petugas Indonesia Paling Oke...!!!

  Membandingkan pelayanan publik di Indonesia dan beberapa negara lain sebaiknya jangan dilihat dari fasilitas pendukung karena jelas kita ketinggalan jauh...di luar negeri terutama beberapa kota besar segala sesuatu sudah serba elektrik dan digital sementara kita kebanyakan masih manual dan mengandalkan tenaga manusia.
Namun pelayanan bukan semata-mata dilihat dari fasilitas yang lengkap, tapi bagaimana petugas yang mengawaki dapat memberikan sikap empati dan menciptakan suasana yang comfortable, beberapa instansi yang wajib memperlihatkan 'bentuk' pelayanan melalui tampilan staf nya adalah instansi kepolisian, dengan slogan "to serve and to protect" idealnya seorang petugas polisi harus menunjukan performance yang prima agar tercipta suatu kepercayaan dari masyarakat. Sejauh ini beberapa program yang direalease oleh Polri sudah mengarah kepada kepolisian yang humanis dan bertujuan untuk meningkatkan citra Polri di mata masyarakat, Polri berusaha untuk profesional, proporsional, transparan, jujur, adil dan patuh hukum dengan tetap mengedepankan pelayanan yang prima dan berempati kepada masyarakat.
Pada tulisan ini saya ingin membandingkan sedikit situasi pelayanan yang sering kita jumpai di Indonesia, baik yang dilakukan oleh Polri maupun beberapa bentuk pelayanan yang diberikan oleh instansi pemerintah lain yang bersinggungan langsung dengan masyarakat dengan bentuk pelayanan yang kebetulan saya alami pada saat diberi kesempatan ke luar negeri.
Setahun yang lalu saya mengikuti suatu program pelatihan singkat di Italia, tentunya waktu weekend tidak kami sia-siakan dan dipergunakan untuk pelesir keliling ke beberapa kota diantaranya Milan, salah satu kota besar di Italia yang terkenal sebagai kota mode dan wisata. Ada pengalaman kurang mengenakan yang kami alami disana, salah seorang kawan kami kecopetan dan naasnya passport yang bersangkutan ikut terambil sehingga kami bergegas mencari pos polisi terdekat, disekitar Piazza I'l Duomo kami menjumpai seorang wanita Polizia (polwan) yang sedang asyik ber-sms, pada saat kami menyapa dan bertanya,"excused me, can you speak english?" dengan tetap menengok ke layar handphone-nya, polwan tersebut hanya menggerakan jari tangannya menandakan bahwa dia tidak bisa berbahasa Inggris, kami terdiam sesaat dan mencoba untuk berkomunikasi lagi namun polwan tersebut berlalu seolah-olah kami nggak ada, nggak patah arang kami menjumpai Polizia yang lain dan alhamdulillah bisa berbahasa Inggris dan mau menunjukan arah ke pos polisi terdekat. Sambil membahas sikap Polwan tadi kami berjalan menuju pos polisi dan di tengah jalan kami berjumpa lagi dengan mobil patroli Polizia, untuk meyakinkan kami bertanya sekali lagi arah menuju kantor polisi dan diberi petunjuk oleh petugas Polizia yang sedang patroli itu, setiba di kantor Polizia di Stato betapa terkejutnya kami karena ternyata mobil patroli yang bertemu dengan kami tadi ada disitu, berikut petugas yang sama dan tersenyum kepada kami...
Dibandingkan dengan petugas polisi di Indonesia, hal yang saya ulas diatas tentu sangat kontradiktif, di Indonesia petugas Polri akan berusaha melayani seorang yang bertanya sesuatu apalagi di tempat publik/wisata, sekalipun polisi tersebut tidak mampu berbahasa Inggris, segala upaya akan dicoba bila perlu menggunakan bahasa tarzan untuk melayani seorang turis terutama orang asing karena memang didoktrin demikian bahwa harus melayani dengan senyum, sapa, salam. Belum lagi manakala sedang melakukan patroli dan menjumpai kasus seperti diatas maka saya kira petugas Polri akan menawarkan masyarakat untuk ikut 'numpang' ke kantor polisi, toh tujuannya sama.
Ada lagi pengalaman waktu masuk ke Singapore lewat jalur laut dari Batam, karena sepupu saya minta dibawakan lapis legit sehingga istri saya membuatkan lapis legit sebagai oleh-oleh, pada saat mengantri di pemeriksaan customs terdengar bunyi dari alat metal detector diikuti oleh beberapa petugas yang bergegas, saya sempet nyeletuk kepada istri, "siapa lagi tuh yang ketangkap..." tak lama kemudian terlihat beberapa pakaian terlempar di udara dan saya kenali sebagai pakaian saya dan istri, saya pun segera menghampiri karena ternyata tas saya diperiksa, setelah dialog dan penggeledahan singkat ternyata penyebab bunyi adalah pisau pemotong kue yang lupa dikeluarkan oleh istri saya, saya menjelaskan kekeliruan itu dan dimaklumi namun yang mendongkolkan saya dan istri terpaksa memungut satu persatu dan membenahi tas tersebut karena kue terletak dibagian paling bawah sehingga sebagian pakaian kami termasuk 'daleman' bertebaran keluar.
Perbandingan di Indonesia, betapa petugas bea cukai kita sedemikian santun dan penuh senyum apalagi menghadapi orang asing, terlebih kalau terjadi kekeliruan seperti tadi maka petugas di Indonesia tidak segan-segan turut membantu membereskan barang bawaan seorang wisatawan, sebelumnya kalaupun menggeledah akan dilakukan dengan baik dan teratur tidak seenaknya melempar barang bawaan di dalam koper keluar.
Mencermati beberapa fakta diatas, saya kira dalam memberikan pelayanan petugas di Indonesia masih lebih ramah dan sopan dibanding petugas di negara lain, hal ini mungkin disebabkan oleh doktrin yang baik tentang bagaimana memberikan pelayanan khususnya kepada wisatawan manca negara atau karena petugas kita memiliki tendensi tertentu yang mengharapkan 'ucapan terimakasih' dari wisman tersebut, atau yang lebih parah karena kita masih mental dijajah yang takut bila melihat 'londo'. 
Apapun itu alangkah baiknya kita terapkan secara profesional dan proporsional, beri bantuan seperlunya sesuai yang diinginkan kalau memang bisa memberi 'tumpangan' kenapa nggak? kalau tidak mampu berbahasa Inggris mungkin bisa mencari rekan yang mampu dan apabila seseorang terindikasi melanggar agar ditindak dengan tegas dan mampu meminta maaf bila ternyata dugaan tersebut keliru dengan memberikan bantuan seperlunya. Tidak perlu kita berusaha menunjukan tampilan paling manis sehingga terkesan takut dan ragu karena pada kenyataannya terhadap warga sendiri petugas pelayanan di Indonesia cenderung arogan dan mempersulit, tidak perlu kita khawatir sikap demikian akan menghambat perkembangan dunia pariwisata karena ternyata wisata di Italia dan Singapore lebih maju dari kita dengan petugas yang seperti itu dan biaya yang jauh lebih mahal dari Indonesia.
Yang paling penting jauhkan keinginan-keinginan pribadi dalam memberikan pelayanan publik pada setiap instansi, karena 'bau-bau'-nya akan tercium dan diresponse oleh pihak yang membutuhkan sehingga dapat menjadi awal penyalahgunaan wewenang dan berujung kepada tindak pidana korupsi atau kejahatan lain yang memanfaatkan celah dan kelemahan kita.
Read More...
Read More...

Wednesday, June 10, 2009

Manohara...

Rasanya kurang afdhal apabila kita tidak membahas kasus Manohara Odelia Pinot dalam blog ini...
Kasus kekerasan dalam rumah tangga yang menimpa model cantik tersebut dapat kita jumpai setiap hari dan menempati urutan utama dalam setiap penayangan infotainment beberapa waktu terakhir, banyak pro dan kontra yang muncul sebagai dampak pemberitaan yang bombastis terkait kasus tersebut, belum lagi pernyataan kuasa hukum non-aktif manohara OC Kaligis yang menyatakan mundur dari kasus tersebut karena tidak terlihat upaya positif dari pihak Manohara khususnya dari ibunda Ny Daisy Fadjarina yang terkesan pada saat itu menunda-nunda pelaksanaan visum et repertum sebagai salah satu syarat penuntutan terhadap Tengku Temenggong Muhammad Fakhry Petra, Pangeran Kelantan yang diduga melakukan tindakan kekerasan dalam rumah tangga.
Walaupun pada akhirnya pihak Manohara 'bersedia' melakukan visum et repertum dengan didampingi kuasa hukum yang lain, berbagai tanggapan sudah muncul dan mengundang saya tergelitik untuk melakukan analisa pribadi terhadap kasus tersebut. Tuduhan yang dilontarkan oleh pihak Manohara kepada Pangeran Kelantan itu tidak main-main, selain melakukan penyiksaan fisik, sang Pangeran dituduh melakukan beberapa tindakan yang kalau dilihat susah diterima akal sehat seperti menyuntik hormon, menyayat tubuh mulus Manohara dan sebagainya yang sepertinya sulit dilakukan terlebih kepada Manohara yang cantik, mulus dan memenuhi kriteria sebagai istri idaman. Sanggahan bukannya tidak datang dari pihak kerajaan Kelantan, pihak yang mengaku sebagai perwakilan Kerajaan Kelantan membantah dengan merilis photo-photo Manohara dan Pangeran yang terlihat berbahagia menghadiri berbagai kegiatan selama di Kelantan Malaysia.
Photo yang semuanya dibantah oleh pihak Manohara yang mengatakan bahwa senyum Manohara pada saat itu adalah senyum terpaksa karena diwajibkan, bahkan sekarang Manohara melaksanakan press release terkait hasil VeR yang dilakukan oleh pakar forensik Dr Mu'nim Idris dari RSCM yang memperlihatkan bekas-bekas sayatan dan memar akibat dianiaya, apabila ini betul terjadi maka alangkah baiknya pihak Manohara segera menuntaskan kasus ini melalui jalur hukum sehingga tidak memunculkan persepsi negatif terhadap Manohara dan Ny Daisy Fadjarina sebagai korban.
Mengapa saya mengatakan demikian, karena di beberapa situs dan mail list groups telah beredar beberapa photo dan opini yang menceritakan latar belakang Ny Daisy Fadjarina dan Dewi kakak Manohara yang semuanya (boleh dikatakan) negatif, mulai dari kehidupan socialita ibunda dan kakak Manohara yang bergaul di kalangan jetset, permintaan dan keinginan Ny Daisy terhadap beberapa pria yang mendekati Manohara, Photo keluarga Manohara berlibur dengan pesawat pribadi milik salah satu keluarga terkaya di indonesia, photo Manohara dugem di Bali dengan salah satu pembalap Indonesia (pada saat Manohara melarikan diri pertama kali dari Pangeran Kelantan), semua itu dapat di klik di http://www.indonesiaindonesia.com yang menjadi anti tesis dengan apa yang disampaikan Manohara selama ini.
Dalam rumusan UU No 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, tidak dapat ditolerir sedikitpun setiap perbuatan penyiksaan baik fisik maupun psikis terhadap siapapun yang merupakan bagian dari rumah tangga atau orang yang berada dalam lingkungan rumah tangga, terlebih terhadap istri yang seharusnya mendapat curahan perhatian dan kasih sayang. Setiap pelanggaran terhadap undang-undang ini diancam dengan tuntutan pidana lebih dari 5 (lima) tahun sehingga dapat dilakukan penahanan oleh pihak penyidik pada saat dilakukan investigasi, kendala dari pelaksanaan undang-undang ini adalah banyak pihak terutama istri yang tadinya melaporkan perbuatan kekerasan yang dilakukan suami-nya pada akhirnya luluh dan mencabut laporan atas pertimbangan kasihan dan kekeluargaan setelah sang suami disidik dan akan dilakukan penahanan, sehingga jalan terakhir adalah damai atau mungkin diproses lewat pengadilan agama untuk perceraian.
Kasus Manohara menurut analisa pribadi saya akan menemui beberapa hambatan, diantaranya karena locus delicti-nya adalah di negara lain -Malaysia- yang seharusnya dilaporkan kepada Polis Diraja Malaysia, kalaupun diterima oleh Mabes Polri -Indonesia-, apakah mungkin PDRM setelah menerima limpahan kasus ini akan segera mengambil tindakan nyata, mengingat kasus ini melibatkan pihak kerajaan yang notabene adalah 'simbol' dari negara Malaysia sendiri, kasus Manohara sendiri sebenarnya adalah masalah interen keluarga yang mengandung unsur pidana namun karena situasi sekarang sepertinya menyinggung ranah politik luar negeri dua negara serumpun yang kebetulan akhir-akhir ini agak 'bergesekan' karena kasus Ambalat, apakah kedua negara akan mengalah dan mengambil jalan keluar terbaik atau masing-masing bersikukuh 'membela' warga negara-nya? Semua itu perlu kita sikapi dengan arif, menunggu pembuktian dari investigasi yang dilakukan kepolisian, serta sikap 'legowo' masing-masing pemerintah untuk menindaklanjuti laporan tersebut sehingga jelas siapa yang salah dan berbohong, jangan sampai masyarakat terprovokasi dan melakukan tindakan yang dapat memperkeruh hubungan bilateral kedua negara.

Read More...

Pantes Nggak Mantan Anggota DPR Mendapat Cincin Emas...

Akhir-akhir ini bila kita cermati lewat berbagai media baik cetak maupun elektronik muncul tanggapan atas rencana memberikan kenang-kenangan bagi anggota DPR yang purna tugas berupa cincin emas seberat 10gr berlogo lambang negara, dengan nilai total puluhan milyard.
Dalam kesempatan ini saya bermaksud mengulas sekaligus urun rembug menanggapi masalah tersebut dari kaca mata awam saya selaku warga masyarakat, seberapa pantes kah anggota DPR mendapatkan itu...
Apabila kita telisik secara mendalam, sebenarnya tugas sebagai anggota dewan yang terhormat sangatlah berat dimana mereka mengemban amanat rakyat dan menyambungkannya dengan pihak eksekutif sehingga terjadi keseimbangan dalam suatu pemerintahan negara, khususnya dalam mewujudkan iklim demokrasi.
Sepanjang tugas itu dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan benar maka secara pribadi saya sangat mendukung apabila ada 'sedikit' ungkapan terimakasih atas pengabdian yang telah diberikan kepada bangsa dan negara khususnya untuk kemaslahatan masyarakat yang diwakilinya, namun sayangnya dari track record anggota dewan yang terhormat pada beberapa waktu terakhir ini sering kita melihat dan mendengar bahwa banyak terjadi hal-hal yang tidak terpuji dan dilakukan oleh anggota dewan dalam masa pengabdiannya, diantaranya; terlibat perkara khususnya tindak pidana korupsi, menerima suap, melakukan kegiatan yang tidak pantas dilakukan oleh seorang anggota legislatif (clubbing, punya 'simpanan', beradegan syur dan direkam secara sadar), serta beberapa hal lain. Yang semuanya tentu akan mengurangi kepercayaan dan wibawa mereka dihadapan konstituennya, belum lagi issue yang mengatakan untuk mengegolkan suatu kebijakan pihak yang berkepentingan harus melakukan lobby yang tidak sedikit jumlahnya agar mendapat dukungan dari DPR, baik terkait disahkan-nya suatu RUU menjadi UU atau mendapatkan rekomendasi penunjukan seorang pejabat publik, padahal masyarakat juga mengetahui tidak sedikit anggota dewan yang sering membolos dari kegiatan sidang atau tertidur pada pelaksanaan sidang yang akhirnya memunculkan pertanyaan di tengah-tengah masyarakat, "apakah yg seperti itu wujud orang yang mewakili kita?"
Pada pemilu legislatif yang lalu kita melihat suatu fenomena dimana bertebaran gambar, baliho, iklan yang memperlihatkan wajah-wajah dan program calon legislator baik di tingkat pusat sampai tingkat daerah, banyak muncul wajah yang tiba-tiba mengaku sebagai putra/putri daerah (sebelumnya gak pernah terlihat), banyak muncul profile yang secara kualitas diragukan namun karena didukung massa atau materi yg mumpuni sehingga mampu maju bertarung memperebutkan kursi legislatif, dari sini mungkin kita sudah dapat melihat seperti apa kelak wajah legislator kita, yang mengaku-ngaku putra/putri daerah padahal sebelumnya nggak pernah kelihatan pasti akan segera lupa terhadap tugas dan tanggung jawabnya mewakili rakyat di daerah pemilihannya, yang mengandalkan uang pasti akan segera mengharapkan modalnya kembali dan yang latar belakangnya nggak jelas pasti kurang memiliki intelektual dan kualitas yang baik selaku anggota dewan yang terhormat. 
Kondisi diatas mudah-mudahan hanya perkiraan yang keliru dari saya, semoga para anggota legislatif yang terpilih betul-betul dapat mengemban amanah rakyat, semata-mata untuk kepentingan rakyat bukan karena kepentingan pribadi atau golongan tertentu, situasi bangsa yang belum bangkit dari keterpurukan ekonomi dan kewibawaan bangsa yang akhir-akhir ini terusik semoga mampu mengingatkan anggota dewan bahwa banyak hal yang lebih penting daripada sekedar pengadaan cincin sebagai kenang-kenangan, tidak perlu meneruskan tradisi yang lalu, toh rakyat juga mengetahui banyak fasilitas yang didapat oleh anggota DPR selain gaji yang tergolong tinggi dibanding beberapa pejabat lainnya. Alangkah arif dan bijaknya apabila DPR mau 'mengalah' dan 'mengalihkan' anggaran pengadaan cincin untuk kepentingan lain yang bersentuhan dengan masyarakat, bangsa dan negara serta mengganti kenang-kenangan tersebut dalam wujud lain yang lebih 'merakyat'.
Akhirnya kalaupun mau dipaksakan untuk pengadaan kenang-kenangan dalam bentuk cincin, sebaiknya para anggota dewan yang terhormat melakukan introspeksi diri terhadap apa yang sudah dilakukan untuk kepentingan rakyat, meminimized (kalo nggak bisa dihilangin) penyalahgunaan wewenang sebagai legislator dan melakukan kinerja yang baik semata-mata untuk pengabdian kepada masyarakat, bangsa dan negara.
Read More...