Wednesday, June 10, 2009

Pantes Nggak Mantan Anggota DPR Mendapat Cincin Emas...

Akhir-akhir ini bila kita cermati lewat berbagai media baik cetak maupun elektronik muncul tanggapan atas rencana memberikan kenang-kenangan bagi anggota DPR yang purna tugas berupa cincin emas seberat 10gr berlogo lambang negara, dengan nilai total puluhan milyard.
Dalam kesempatan ini saya bermaksud mengulas sekaligus urun rembug menanggapi masalah tersebut dari kaca mata awam saya selaku warga masyarakat, seberapa pantes kah anggota DPR mendapatkan itu...
Apabila kita telisik secara mendalam, sebenarnya tugas sebagai anggota dewan yang terhormat sangatlah berat dimana mereka mengemban amanat rakyat dan menyambungkannya dengan pihak eksekutif sehingga terjadi keseimbangan dalam suatu pemerintahan negara, khususnya dalam mewujudkan iklim demokrasi.
Sepanjang tugas itu dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan benar maka secara pribadi saya sangat mendukung apabila ada 'sedikit' ungkapan terimakasih atas pengabdian yang telah diberikan kepada bangsa dan negara khususnya untuk kemaslahatan masyarakat yang diwakilinya, namun sayangnya dari track record anggota dewan yang terhormat pada beberapa waktu terakhir ini sering kita melihat dan mendengar bahwa banyak terjadi hal-hal yang tidak terpuji dan dilakukan oleh anggota dewan dalam masa pengabdiannya, diantaranya; terlibat perkara khususnya tindak pidana korupsi, menerima suap, melakukan kegiatan yang tidak pantas dilakukan oleh seorang anggota legislatif (clubbing, punya 'simpanan', beradegan syur dan direkam secara sadar), serta beberapa hal lain. Yang semuanya tentu akan mengurangi kepercayaan dan wibawa mereka dihadapan konstituennya, belum lagi issue yang mengatakan untuk mengegolkan suatu kebijakan pihak yang berkepentingan harus melakukan lobby yang tidak sedikit jumlahnya agar mendapat dukungan dari DPR, baik terkait disahkan-nya suatu RUU menjadi UU atau mendapatkan rekomendasi penunjukan seorang pejabat publik, padahal masyarakat juga mengetahui tidak sedikit anggota dewan yang sering membolos dari kegiatan sidang atau tertidur pada pelaksanaan sidang yang akhirnya memunculkan pertanyaan di tengah-tengah masyarakat, "apakah yg seperti itu wujud orang yang mewakili kita?"
Pada pemilu legislatif yang lalu kita melihat suatu fenomena dimana bertebaran gambar, baliho, iklan yang memperlihatkan wajah-wajah dan program calon legislator baik di tingkat pusat sampai tingkat daerah, banyak muncul wajah yang tiba-tiba mengaku sebagai putra/putri daerah (sebelumnya gak pernah terlihat), banyak muncul profile yang secara kualitas diragukan namun karena didukung massa atau materi yg mumpuni sehingga mampu maju bertarung memperebutkan kursi legislatif, dari sini mungkin kita sudah dapat melihat seperti apa kelak wajah legislator kita, yang mengaku-ngaku putra/putri daerah padahal sebelumnya nggak pernah kelihatan pasti akan segera lupa terhadap tugas dan tanggung jawabnya mewakili rakyat di daerah pemilihannya, yang mengandalkan uang pasti akan segera mengharapkan modalnya kembali dan yang latar belakangnya nggak jelas pasti kurang memiliki intelektual dan kualitas yang baik selaku anggota dewan yang terhormat. 
Kondisi diatas mudah-mudahan hanya perkiraan yang keliru dari saya, semoga para anggota legislatif yang terpilih betul-betul dapat mengemban amanah rakyat, semata-mata untuk kepentingan rakyat bukan karena kepentingan pribadi atau golongan tertentu, situasi bangsa yang belum bangkit dari keterpurukan ekonomi dan kewibawaan bangsa yang akhir-akhir ini terusik semoga mampu mengingatkan anggota dewan bahwa banyak hal yang lebih penting daripada sekedar pengadaan cincin sebagai kenang-kenangan, tidak perlu meneruskan tradisi yang lalu, toh rakyat juga mengetahui banyak fasilitas yang didapat oleh anggota DPR selain gaji yang tergolong tinggi dibanding beberapa pejabat lainnya. Alangkah arif dan bijaknya apabila DPR mau 'mengalah' dan 'mengalihkan' anggaran pengadaan cincin untuk kepentingan lain yang bersentuhan dengan masyarakat, bangsa dan negara serta mengganti kenang-kenangan tersebut dalam wujud lain yang lebih 'merakyat'.
Akhirnya kalaupun mau dipaksakan untuk pengadaan kenang-kenangan dalam bentuk cincin, sebaiknya para anggota dewan yang terhormat melakukan introspeksi diri terhadap apa yang sudah dilakukan untuk kepentingan rakyat, meminimized (kalo nggak bisa dihilangin) penyalahgunaan wewenang sebagai legislator dan melakukan kinerja yang baik semata-mata untuk pengabdian kepada masyarakat, bangsa dan negara.

No comments:

Post a Comment