Perkembangan hubungan Indonesia dan Malaysia akhir-akhir ini agak 'memanas', selain kasus yang menimpa Manohara, pelanggaran batas teritorial oleh TLDRM di wilayah Ambalat dan yang terakhir kasus yang menimpa TKW asal Indonesia Sitti Hajjar, pemerintah kedua negara bukan tidak mengambil langkah-langkah untuk meredam perkembangan issue-issue tersebut, namun dalam berbagai kesempatan baik di dunia nyata maupun dunia maya terjadi saling menghina, mengejek dan perbuatan lain yang tidak pantas dilakukan oleh dua negara yang mengaku sebagai jiran.
Sebaiknya setiap permasalahan apabila ditanggapi secara dingin akan lebih baik dan tidak berkembang secara negatif, dalam kasus Manohara alangkah baiknya kita memposisikan masalah ini dalam ranah hukum dan tidak terpancing dengan hal yang belum dapat dibuktikan secara yuridis, demikian juga dengan kasus penganiayaan TKW asal Indonesia oleh majikannya yang seharusnya segera diresponse melalui jalur hukum dan untuk pelanggaran teritorial di Ambalat saya kira masing-masing pihak sudah mengambil langkah terbaik untuk duduk semeja menyelesaikan permasalahan tersebut dengan semangat ASEAN, toh kita sudah mendengar pernyataan Panglima Tentera Diraja Malaysia yang saya kira merupakan suatu itikad baik untuk penyelesaian damai.
Upaya-upaya tersebut akan sia-sia bila kita mau untuk terus diprovokasi oleh pihak yang berkepentingan sehingga akan memperkeruh suasana, sebagai contoh masih ditemukan unjuk rasa yang berisi ungkapan untuk mengobarkan perang, dengan slogan "Ganyang Malaysia" atau ada yang memelesetkan Malaysia dengan Malingsia serta beberapa ungkapan menghina, mengejek lainnya yang saat ini sangat mudah ditemui dalam kegiatan unjuk rasa dan berbagai situs, blog, dan media lainnya.
Dipihak Malaysia sendiri, banyak melakukan hal yang sama, coba tengok komunitas blogger Malaysia yang jelas-jelas mengatakan bahwa Manohara berbohong atau lihat blog indoncelaka.blogspot.com yang isinya menghujat Indonesia dengan mengatakan indonesial, walaupun dalam beberapa posting-nya tetap meminta masyarakat Indonesia untuk bersikap arif dan bijaksana dalam menyikapi semua issue tersebut.
Kita tentu tidak mau situasi ini akan berlarut-larut, akan lebih baik kalau masing-masing pihak mau bersikap bijaksana karena sebagai bangsa serumpun yang bertetangga tentunya kita memiliki hubungan emosi yang sangat kuat, apabila kita runut ke belakang sejarah telah membuktikan bahwa kita saling mendukung dalam mewujudkan kemerdekaan, banyak transfer ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang telah diberikan Indonesia ke Malaysia hal ini dibuktikan dari banyaknya cendekiawan Malaysia yang menuntut ilmu di Indonesia pada masa-masa awal kemerdekaan kedua negara walaupun pada saat itu juga sempat terjadi konfrontasi, saat ini memang Indonesia agak tertinggal dari Malaysia karena Indonesia lambat pulih semenjak krisis ekonomi pada akhir 1990-an namun sebaiknya itu bukan menjadi celah untuk Malaysia menganggap 'remeh' Indonesia.
Peran media sangat diperlukan dalam memulihkan situasi ini, terkadang pemberitaan yang terlalu berlebihan dapat ditanggapi keliru oleh masyarakat, kemerdekaan untuk memberikan dan menerima informasi harus dilakukan secara proporsional, kalau dicermati dari blog indoncelaka tersebut semua bahan olok-olokan yang diposting blogger Malaysia berasal dari hasil browsing situs-situs di Indonesia, kadang kita sebagai warga Indonesia terlalu vulgar dalam mengkritik pemerintah, kadang kita sendiri yang menciptakan celah untuk orang lain menganggap remeh bangsa kita, kadang kita sendiri yang saling menghujat sehingga kekurangan dan kebobrokan kita diketahui secara luas dan yang terakhir kita masih belum bangga sebagai Indonesian, kita masih suka melihat kepada orang lain dan meninggalkan kekhasan kita dan setelah terprovokasi dengan kasus-kasus seperti diatas, tiba-tiba muncul nasionalisme yang sempit dan pada akhirnya menunjukan kekurangan kita sendiri, sebagai contoh; untuk apa sih unjuk rasa sampai harus bakar bendera segala??! mau nggak kalau bendera kita dibakar?, untuk apa unjuk rasa sampai harus sweeping segala? ada berapa banyak WNI di negara lain, mau nggak kalo mereka disweeping juga? masih banyak contoh lain yang menunjukan sikap kekanak-kanakan dalam menerima sesuatu sehingga mudah terprovokasi.
Harusnya dalam menyikapi semua hal yang dicontohkan diatas, kita perlihatkan kewibawaan kita sebagai bangsa yang bermartabat, kita perlihatkan bahwa kita dulu adalah 'guru' bangsa-bangsa di Asia Tenggara, pemerintah yang terpilih dalam proses Pemilu 2009 harus segera mengambil langkah-langkah untuk mewujudkan kebanggaan itu agar apapun yang ditulis di blog tersebut dapat segera terbantahkan, kita negara yang kaya dan memiliki sumber daya yang besar sepanjang dikelola dan diarahkan dengan baik penggunaannya. Susun program-program untuk memberantas korupsi dan laksanakan jangan hanya tebang pilih agar semua utang luar negeri dapat diselesaikan untuk pemulihan ekonomi, perkuat alutsista angkatan bersenjata, wujudkan kebanggaan dan nasionalisme yang tidak salah kaprah dan menjadi bahan olok-olok bangsa lain.
Sebagai Indonesian saya bangga memiliki tanah air yang demikian kaya, terpulang kepada pemerintah untuk mempergunakan sebaik-baiknya bagi kemakmuran rakyat, mulai sekarang jangan mau disebut indon, atau menyebut diri dengan indo yang berkonotasi negatif karena merupakan sebutan olokan terhadap TKI kita dan mengingatkan sebutan pada jaman kolonialisme...sebut diri kita sebagai Indonesian!!!

No comments:
Post a Comment