Sejauh mana jiwa nasionalisme kita akan dipertahankan, seiring dengan kewibawaan bangsa yang semakin menurun, dimana kita melihat dan mendengar bagaimana anak bangsa dianiaya dan dianggap remeh, bagaimana batas teritorial yang merupakan batas negara dengan seenaknya dilanggar dan bagaimana aksi sweeping yang dilakukan oleh ormas negara tetangga bahkan mengganggu warga negara yang melakukan kunjungan ke negeri jiran baik selaku duta negara sahabat maupun sebagai wisatawan yang notabene adalah tamu...
Mengenang masa beberapa tahun yang lampau dimana kewibawaan negeri ini begitu terkenal seantero dunia, dimana ucapan kepala negara kita menjadi ancaman buat beberapa negara tetangga yang akhirnya berpikir berkali-kali untuk selalu menjaga keharmonisan yang bukan dari pihak kita yang merasa harus toleransi...
Fakta diatas bukan merupakan ungkapan ragu saya selaku pribadi, terus terang saya masih sangat bangga sebagai warga negara Indonesia dan akan terus bangga mengakuinya, tulisan ini ingin mengajak kita sebagai warga negara Indonesia untuk menumbuhkan kebanggaan dan keyakinan kepada pemerintah kita, terutama mendukung siapapun yang terpilih dalam Pilpres 2009 agar seluruh program dapat berjalan untuk mengembalikan kebanggaan yang mungkin agak berkurang akhir-akhir ini.
Urun rembug ini juga merupakan wahana untuk menggugah dan menginstropeksi diri, bagaimana (menurut pemikiran saya) bahwa kita sendiri berperan besar dalam mengurangi kewibawaan bangsa, pernyataan-pernyataan yang mendiskreditkan pemerintah, kelakuan saling menyalahkan dan mengungkit kesalahan yang sebenarnya tidak perlu, sifat kekanakan dalam menyikapi issue baik nasional maupun global, sedikit banyak berperan dalam membentuk opini masyarakat dunia karena dengan sarana komunikasi yang makin terbuka dan global, setiap informasi akan cepat di akses sehingga semua kekurangan dan 'kebobrokan' yang harusnya merupakan konsumsi lokal bisa dengan cepat mendunia.
Mungkin kritik dan masukan yang diberikan untuk pemerintah merupakan pressure agar pemerintah segera merespon namun disisi lain menunjukan kelemahan bangsa kita, kebebasan dalam mendapatkan informasi sering menjadi salah kaprah pada dimensi yang lain, perlu diingat bahkan dibeberapa negara yang lebih maju dan modern dari negeri kita, sopan santun dan etika dalam memberikan serta menerima informasi masih diawasi oleh negara.
Selain sama-sama menjaga sikap dan etika dalam memberikan pernyataan dan informasi, pemerintah harus segera mengambil langkah-langkah untuk menumbuhkan kebanggaan, antara lain dengan memperkuat alutsista guna mengamankan wilayah Indonesia yang demikian luas, menjadi bahan tertawaan negara tetangga fakta bahwa peralatan militer kita adalah sisa-sisa Perang Dunia II, kalaupun ada yang baru, itu merupakan produk assembling dari perusahaan lokal yang kualitasnya meragukan, maka tak heran dalam pemberitaan media akhir-akhir ini banyak terjadi kecelakaan peralatan tempur kita, yang jelas-jelas karena faktor usia pakai yang sudah uzur...itupun kita masih mendengar pernyataan yang mengatakan bahwa peralatan tersebut masih layak pakai dan penyebab kecelakaan karena faktor cuaca atau human error, sungguh suatu pembodohan publik.
Hubungan baik dengan negara-negara pemasok peralatan tempur perlu dijaga, bukan bermaksud menjual rasa kebangsaan namun perlu dilakukan sikap politik yang baik dalam menjaga hubungan layaknya kehidupan bertetangga, jauhkan sifat kekanakan yang pada akhirnya merugikan bangsa sendiri, adakalanya perlu juga kita kompromi dengan negara barat, toh beberapa bangsa yang mayoritas muslim pun banyak yang menjalankan strategi yang sama.

No comments:
Post a Comment